Bersiaplah Anda menerima gaji yang tinggal bernilai ribuan rupiah. Anda yang hari ini mendapat gaji Rp 2 Juta, lusa gaji Anda tinggal dua ribu rupiah. Tak percaya?

Uang SaneringTanpa hiruk pikuk, Pemerintah RI mulai 18 Mei 2010, mengumpulkan dana untuk memodali proyek bernama Denominasi Rupiah, yaitu memangkas tiga nol angka dalam nominal rupiah, atau yang dulu dikenal sebagai Sanering Rupiah (Sumber: BI). Peristiwa ini mengingatkan kita pada sanering 31 Desember 1965, saat Orde Lama – Soekarno memangkas nilai Rp 1000 menjadi Rp 1. Caranya: uang lama ‘rupiah glabak, karena dicetak dalam lembaran besar’ yang beredar, umumnya bernilai Rp 50, Rp 100, Rp 500, Rp 1000, Rp 5000 dan Rp 10.000 ditarik oleh Bank Indonesia, kemudian ditukar menjadi 5 sen untuk Rp 50, 10 sen untuk Rp 100, dan 50 sen untuk Rp 500, lalu Rp 1 untuk Rp 1000, Rp 5 untuk Rp 5000, serta Rp 10 untuk baru Rp 10.000 lama.

Sanering RupiahDenominasi Rupiah, atau Sanering kali ini didanai dari Surat Utang Negara (SUN). Penjualan SUN Denominasi Rupiah ini dilakukan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Setelah dana terkumpul dirasa cukup oleh pemerintah, maka sanering segera dimulai. Memang wacana sanering rupiah sudah lama muncul sejak Reformasi 1999, dan kini mendekati kenyataan. Rencananya Rp 1000 saat ini akan diganti dengan Rp 1 baru, tentu dengan gambar uang kertas yang nyaris serupa. Misalnya Rp 100.000 yang bergambar Soekarno-Hatta akan ditarik, dan ditukar dengan Rp 100 baru yang juga bergambar Soekarno-Hatta, seperti dulu ketika BI menarik uang plastik Rp 100.000 berbahan polymer gambarnya hanya dimodivikasi. Lembaran bergambar I Gusti Ngurah Rai yang bernominal Rp 50.000, kelak ditukar menjadi Rp 50. Begitu pula dengan rupiah pecahan lainnya, tetapi kali ini uang kertas Rp 1000 kemungkinan besar diganti dengan koin, jadi uang kertas terkecil nantinya Rp 2 baru bergambar Pangeran Antasari. Untuk uang logam, akan di mulai dari nominal 50 sen untuk mengganti Rp 500, dan Rp 1 untuk mengganti Rp 1000.

Begitu pula dengan nilai nominal rupiah dalam rekening bank dan slip gaji kita. Akan otomatis dipangkas 3 digit dalam penulisannya. Misalnya: rekening tabungan Rp 1.525.720,00 akan ditulis Rp 1.525,72 dan ini tentu lebih efisien, sebab denominasi rupiah akan mengangkat citra mata uang republik ini di mata dunia internasonal, karena penulisan rupiah setara dengan penulisan mata uang lain. Uang baru nantinya akan beredar bersama dengan rupiah sekarang, dan pedagang nantinya diwajibkan untuk menulis harga barang dengan dua jenis rupiah secara berdampingan. Misalnya: 1 Kg beras Rp 6.000, menjadi 1 Kg beras Rp 6000 / Rp 6 baru. Hal ini tidaklah aneh, tanpa disadari kebiasaan masyarakat saat ini memangkas nilai uang dalam istilah sehari-hari, mereka menyebut 50 untuk nominal Rp 50.000, juga 120 untuk Rp 120.000.

Denominasi ini katanya untuk mencegah diterbitkannya rupiah dalam nominal yang lebih besar lagi akibat inflasi. Beberapa waktu yang lalu, memang dikuatirkan oleh belbagai pihak bahwa nominal dalam lembaran rupiah akan terus membengkak, bahkan hingga 7 digit, yaitu Rp 1.000.000. Kekuatiran ini diawali oleh rencana terbitnya Rp 200.000 dan Rp 500.000 pasca beredarnya uang kertas Rp 2000 pada tahun 2009 kemarin. Namun sayang, proyek denominasi rupiah kali ini pun tidak dibekali oleh pondasi yang kuat. Sanering justru dibiayai dari Surat Utang Negara (SUN), ini tentunya akan membebani rupiah kelak.

Seharusnya pemerintah bukan mengumpulkan dana dari utang, tetapi menabung dalam bentuk emas dari sebagian penghasilannya. Kalau tak sanggup mengumpulkan emas batangan karena tak ada uang tunai, alangkah baiknya pemerintah segera mengajak masyarakat untuk menabung dalam dinar. Setelah pondasi keuangan terbentuk di masyarakat, misalnya telah beredar 25 juta koin dinar emas, barulah pemerintah mengkaitkan rupiah dengan dinar, untuk memperkuat rupiah baru.

Hal ini tidaklah berlebihan, bila setiap keluarga WNI dianjurkan untuk menabung 1/2 atau 1 dinar emas. Lepas dari itu semua, yang terpenting bagi kita, rakyat Indonesia, denominasi rupiah tidak menjadi awal dari bencana permainan riba ex nihilo atau zero sum game dalam rupiah. Sebab nantinya rakyat yang kalah gesit mengimbagi permainan ini pasti semakin terpuruk kondisinya. [SF]

wakalanusantara.com

Rabu, 16/06/2010 18:26 WIB
Demi Internet Murah, Wimax Harus Lebih Cepat
Achmad Rouzni Noor II :
detikcom – Jakarta, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) serta Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mendorong para pemenang lisensi broadband wireless access (BWA) di pita 2,3 GHz agar segera menggelar jaringan pita lebar Wimax secara komersial.

Menurut Anggota BRTI Heru Sutadi, tujuan dari dipercepatnya penggelaran jaringan Wimax di Indonesia tak lain agar tarif internet bisa lebih terjangkau masyarakat luas. “Kami inginnya cepat. Makanya, diadakan forum ini untuk melihat kemajuan dan kendala yang dihadapi dalam penggelaran jaringan,” ungkap anggota BRTI Heru Sutadi kepada detikINET, Rabu (16/6/2010). Kominfo dan BRTI tengah menggelar forum bersama para pemangku kepentingan di Batam. Tujuannya selain mengumpulkan masukan dan pendapat dari para stakeholder, pemerintah juga ingin melihat langsung kesiapan dari vendor lokal. Selain Batam, pabrik perangkat Wimax lokal lainnya di Bandung juga akan diinspeksi…

Jumat, 18/06/2010 14:15 WIB
Indonesia Tuan Rumah Kompetisi Overclocking Asia
Trisno Heriyanto : detikInet
detikcom – Jakarta, Indonesia memang tak kalah dalam melahirkan jago-jago komputer. Buktinya, Indonesia dipercaya untuk menjadi tuan rumah kompetisi overclocking internasional yang diselenggarakan Gigabyte. Peserta dari seluruh Asia, Afrika dan Australia pun siap adu kebolehan. GigaByte Open Overclocking Championship (COOG) merupakan ajang tahunan yang diselengarakan Gigabyte untuk mencari pengoprek komputer terbaik dari seluruh dunia. Kejuaraan yang sudah berlangsung sejak 2008 silam itu pun kerap dipenuhi oleh overclocker terbaik dunia.

Setelah menjadi peserta cukup lama, Indonesia kini kebagian jatah untuk menjadi tuan rumah kompetisi bergengsi tersebut. Hal ini disampaikan langsung oleh panitia sekaligus Produk Manager dari Gigabyte. “Kita seharusnya bangga, kali ini Indonesia dipercaya untuk jadi tuan rumah kompetisi overclocking tingkat Asia,” papar Benny Lodewijk, kepada sejumlah wartawan di mall Mangga 2, Jumat (18/6/2010).

Selain itu, Benny juga menjelaskan alasan utama Indonesia dipercaya untuk menjadi tuan rumah GOOC 2010 ini. “Penetrasi komunitas overclocking di Indonesia cukup besar, terlebih lagi dalam 3 tahun terakhir ini. Selain itu Indonesia juga merupakan pasar yang berpotensi. Lihat saja, banyak vendor menawarkan kemampuan overclocking dalam produk mereka,” tambahnya. GOOC bakal diselenggarakan selama 2 hari penuh dari tanggal 18-19 Juni 2010 di Mall Mangga 2, Jakarta. Di hari pertama, para peserta hanya terdiri dari komunitas lokal yang berasal dari berbagai kota seperti Jakarta, Semarang, Samarinda, Yogyakarta, dan lainnya. Sedangkan untuk hari kedua, akan dihadiri beberapa peserta dari wilayah Asia, Australia…

KOMPAS.com/ GLORI K WADRIANTO
Dengan jarak proyektor ke layar yang hanya 7 cm, bayangan presenter dapat diminimalkan. Sementara, pena infrared membuat layar menjadi bidang touchscreen. Semua keunggulan itu yang ditawarkan dalam produk proyektor EPSON terbaru EB-450Wi, yang diluncurkan malam ini (Sabtu, 12/6/2010) di Kuta, Bali.

KUTA, KOMPAS.com – Penggunaan proyektor untuk kebutuhan belajar di kelas bukan lagi menjadi hal baru saat ini. Tak hanya presentasi bisnis, banyak sekolah dan lembaga pendidikan memakai proyektor agar materi pengajaran dapat disampaikan dengan lebih baik.

Tapi, kemajuan teknologi itu bukan tanpa kekurangan. Pancaran sinar proyektor yang memancar ke layar, sering kali menghantam tubuh presenter, dan melahirkan bayangan hitam yang justru menutup layar. Sementara, penggunaan laser pointer belum mungkin mendukung interaktifitas terhadap materi yang tampil pada layar.

Lantas, adakah solusi untuk segala masalah itu? Malam ini (Sabtu, 12/6/2010) di Kuta, Bali, PT EPSON Indonesia memperkenalkan sebuah produk baru yang diyakini akan menggantikan fungsi ‘whiteboard’.

Proyektor EB-450Wi diluncurkan sebagai proyektor yang memiliki jarak amat dekat layar, hanya sekitar 7cm. Artinya, proyektor cukup digantung sejauh 7cm dari layar, dan materi presentasi sudah dapat tampil di layar, dengan ukuran diagonal hingga 60 inch. Jarak lensa ke layar pun hanya 45 cm. Semua kelebihan itu memungkinkan proytektor digunakan dalam ruang yang sempit, dan tak ada lagi gangguan bayangan tubuh yang menutup layar.

“Itulah fitur yang disebut ultra-short throw, meminimalkan bayangan dan memungkinkan berbagai permukaan menjadi area presentasi, tak cuma layar, tapi pun dinding dan permukaan halus lainnya,” kata Chris Herman Gunawan, Business and Corporate Division Manager.

Nah, yang juga istimewa, proyektor ini dilengkapi dengan fitur interaktifitas. Berkat bantuan pena infrared, layar monitor di dinding ataupun whiteboard dapat ‘disulap’ menjadi layar touch-screen. Pena ‘ajaib’ itu menggantikan fungsi mouse pada laptop, sekaligus menjadi ‘spidol’ untuk menulis pada layar. “Semua file yang dihasilkan, tentu dapat disimpan dalam format asalnya seperti pada komputer,” kata Chris lagi.

Paket proyektor dengan resolusi 1280×800 WXGA alias widescreen ini dijual satu paket dengan braket dinding (wall mount) untuk kemudahan instalasi. Sementara teknologi 3 panel LCD terpisah (merah, hijau dan biru) memungkinkan gambar tampil lebih halus tanpa perubahan pemisahan warna, atau lebih dikenal dengan efek pelangi.

Lalu, berapa harga produk baru ini? Akankah lembaga pendidikan atau sekolah mampu membeli dan memakainya?

Pihak Epson menyebutkan, produk dipasarkan dengan harga 2.869 dollar AS, atau hampir Rp 30 juta. “Tugas kami adalah mengedukasi pihak-pihak lembaga pendidikan tentang penghematan yang dapat dilakukan dengan memakai produk ini. Memang terasa agak mahal di awal, tapi untuk pemakaian jangka panjang dan kelengkapan fungsi, produk ini justru menawarkan efisiensi,” kata Chris yakin.

(kompas,

Sabtu, 12 Juni 2010 | 20:25 WIB)

IPB Badge